Sabtu, 03 Agustus 2013

Renungan tentang "Internasionalisasi" , Bagaimanakah Idealnya ?


Matahari menyinari dunia dari timur, menuju kebarat untuk membawa sinarnya

East Source Of Wisdom adalah sebuah petikan dari Fahmi Zakarsy yang menunjukkan bahwasanya timur adalah sumber dari kebijaksanaan. Jika ditinjau dari aspek religiusitas memang timur melahirkan banyak kebijaksanaan yang tertuang dalam agama-agama yang lahir di dunia.

Dewasa ini bangsa barat telah mempelajari segala kearifan yang ada di timur, dengan kajian orientalisnya sehingga ketika mereka ingin maju dan menjajah bangsa ini mereka sudah memiliki modal yang cukup. Seorang revolusioner asal Iran yang bernama Ali Syariati pernah berujar "Modernitas yang sering dihubungkan dengan internasionalisasi merupakan sebuah peradaban yang maju dan hebat, itulah yang barat gaungkan kepada kita". Hal ini sangat berdampak pada pemikiran timur, sehingga memunculkan rasa ciut dari timur padahal jika ditinjau dari peradaban timur jauh melahirkan peradaban yang lebih besar. Lihatlah semua sosok pembawa risalah dunia berasal dari timur semua, Renungkanlah ?

Bagaimanakah bangsa kita sekarang ini temanku ?
Gunakan hati kita, bangsa kita jauh akan kebijaksanaan timur. Kita telah terbaratkan oleh budaya barat, pemikiran kita tak lagi orisinil. Sekarang kita sebagai manusia indonesia sudah tak bangga lagi dengan segala budaya kita. Lihat saja berbondong-bondong sekolah menggelorakan internasionalisasi tapi tidak mempertimbangkan aspek kultur kita. Pelajaran kedaerahan sudah mulai berkurang dari tahun ke tahun, bagaimana nasib bangsa kita ?

 Budaya Indonesia semakin luntur dari jiwa raga bangsa ini, selayak hilang tergerus oleh barat.

Dengan hilangnya unsur nasional kita, bisa dikatakan akan muncul kembali  l’exploitation de l’homme par l’homme di Indonesia. Kita semakin konsumtif dan memberhalakan barat. Sejatinya wawasan global memang perlu ditingkatkan untuk menciptakan tata dunia yang aman bagi seluruh umat manusia. Tapi dalam pengaplikasiaannya haruslah seimbang. 

Jangan kita menanamkan nilai global, jika kita tidak menanamkan nilai kultural secara mendalam, sebagai bukti bahwa east source of wisdom. Pendidikan internasional memang harus diterapkan terhadap mahasiswa di era ini, karena secara tidak langsung akan menentukan kedudukan kita di dunia internasional. Tetapi yang perlu kita koreksi adalah bagaimana kita menanamkan cultural studies di jiwa bangsa kita. Sedikit berkaca pemuda bangsa ini sudah sangat jauh akan kebudayaan lokalnya misalnya dengan menjadi penggemar budaya asing yang notabene dianggap lebih "keren".

Seharusnya bangsa kita menjadikan internasionalisasi sebagai ajang untuk menunjukkan nation state kita. Menunjukkan kebijaksanaan bangsa kita, bukan malah menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa pengecut. Pendek kata bagaimana kalo kita ingin menunjukkan bahwa bangsa kita kuat sedangkan kita tidak paham akan budaya sendiri ? Lihat jerman uber alles dengan kata itu mereka bisa menginternasionalisasikan bangsanya, Lha kita ?

Maka dari itu mendengar sayup-sayup internasionalisasi yang akan digaungkan ITS, sebaiknya kita memulainya dengan cara meningkatkan rasa cinta kita terhadap budaya kita sendiri agar kearifan lokal yang ada hilang ditelan arus globalisasi. Bukan menolak internasionalisasi tetapi bagaimana kita kuat pada dasar pemikiran kita. Meruntut pemikiran Ali Syariati "Jangan Sampai Timur Menjadi Komoditi Dagang Barat".

Indonesia harus bangkit dmulai dari ITS sebagai kampus Perjuangan - garda depan pembangunan negara !!

#Bersambung

"Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bangsa-bangsa lain" Pramoedya Ananta Toer

1 komentar: