Rabu, 25 September 2013

Menafsiri Kekayaan dalam Kekuasaan


Akhir-akhir ini banyak orang berlomba-lomba mencari kekuasaan. Berbagai hawa nafsu untuk menguasai semakin memuncak. Dari golongan-golongan itu sama-sama menginginkan kekuasaan untuk menyelipkan sedikitnya beragam kepentingan.

Dalam kekuasaan rasa ingin menjadi kaya sangat  menggebu,  kaya berarti punya kekuatan untuk bermain catur dalam kehidupan. Seorang hukama pernah berkata "Orang Kaya ialah orang yang sedikit keperluanya" 

Menurutmu berbentuk apakah keperluan itu ?
kalo saya mencoba berfikir keperluan adalah tingkat kebutuhan kepentingan apa yang ingin kita telurkan. Jadi inti dari kaya dan miskin ialah hajat dan keperluan. HAMKA pernah berujar bahwasanya Raja-raja adalah orang paling miskin karena dengan kedudukannya sang raja selalu memerlukan hajat yang sangat besar. Maka dari itu untuk mencari kekayaan yang sempurna yaitu dengan menekan nafsu dan menentramkan diri.

Dalam perebutan kekuasaan orang yang mempunyai kekayaan hakiki adalah orang yang sudi menerima sesuatu hasil dan tidaklah pula kecewa jika keinginannya tak tercapai. Orang yang mampu menerima kekalahan adalah orang yang memiliki kekayaan yang hebat karena harta tak dicintai karena harta sebab harta dicintai karena dia pemberian Tuhan. Maka dari itu seorang pemimpin harus memanfaatkan kekayaannya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya.

Ada sebuah petikan untuk mengendalikan kekuasaan itu. Ada dua kekuatan perlindungan pertama, Keutamaan otak karena dengan otak kita dapat yakin antara kebenaran dan kesalahannya sehingga kita dapat memilih menggapai atau menjauhinya. Dan intisari dari keutamaan otak adalah mencerdaskan otak kita agar tidak taklid dengan golongannya. Kedua, keutamaan budi ialah menghilangkan peranggai yang buruk, budaya yang rendah yang dalam moralitas dinyatakan mana yang diambil dan dibuang sehingga kita dapat membina manusia yang berbudi luhur. Oleh karena itu sebagai pemimpin haruslah berbenah diri dan merangkul sekitar agar kedepannya orang yang dipimpinya dapat nyaman bersamanya.


Sedikit petuah dari Sayidina Ali di waktu-waktu ini
"Harga tiap-tiap manusia,ialah menurut kebaikan yang dibuanya"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar