“Universitas
adalah tempat untuk memahirkan diri kita, bukan saja di lapangan technical and
managerial know how, tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di
lapangan ideologi, di lapangan pikiran. Jangan sekali-kali universitas menjadi
tempat perpecahan.”
Langkah gerak KM-ITS seakan pincang tak berarah,
tak terakomodir dalam satu kesatuan yang hakiki. Tak bisa melangkah bersama
lagi. Terpecahkan oleh sesuatu yangh menjadi dasar pergerakan. Sia-sia dan
mubazir, itulah KM-ITS yang sekarang. Wadah yang sebenarnya mengakomodir
pergerakan ini sekarang bersifat individualistis, berjalan sendirian dalam
lapangan pikiran masing-masing. Technical berkumpul dengan technical,
keprofersian berkumpul keprofesian, dan managerial berkumpul managerial. KM-ITS
tidak salah, konstitusinya juga tidak salah, tapi sandal jepitnya terputus.
Tak sempurna ibarat sandal jepit terputus salah
satu penyangganya, Baik di kaki kanan maupun kiri, semuanya putus. Memang
tersamarkan tapi mau bagaimana lagi, bisa dirasakan tapi tak dirubah. Para
adik-adik kelasku dari SMA menjadi korbannya, dibumbui untaian-untaian manis
jakat-jaket yang indah nan elok berwarna-warni bagai bunga edelweiss yang selalu
mekar di kawah candradimuka kehidupan kampus perjuangan. Perjuangan bung !! ada
perjuangan yang harus kita hadapi sekarang, melawan sesuatu yang sudah nyata
dan terasa.
Tersematkan
! Melihat sekilas refleksi dari perjalanan kehidupan Organisasi Kemahasiswaan
di ITS telah banyak mengalami berbagai perubahan sebagai bagian dari dinamika
kehidupan mahasiswa dari waktu kewaktu. Berawal dari bentuk organisasi
mahasiswa (ormawa) intra dan ekstra kampus saat itu, akhirnya memberikan nuansa
persaingan aktifitas kemahasiswaan baik di ekstra kampus maupun di intra kampus
dan antar keduanya. Keduanya saling sikut memperebutkan eksistensinya, untuk
itu munculah suatu konstitusi dasar KM-ITS yang berupa MUBES.
MUBES
IV KM-ITS yang ada sekarang tak berguna ! tapi bukan salah MUBES IV, tapi salah
setiap indivisu-individu yang bercokol di himpunan masing-masing. Yang bersifat
super kultural, yang bersifat membentengi diri dari segala macam perbuhan
kearah depan. Sinkronisasi yang ditawarkan oleh MUBES IV tidak terealisasikan,
tercampakan oleh otak-otak bebal para pengampu kulturalisasi budaya. BEM, HMJ,
dan BEM Fakultas berjalan sendiri-sendiri terpisahkan, berangkat sendiri pulang
sendiri.
Sandal
Jepit Pedot ! itulah KM-ITS yang sekarang. Wawasan intregralistiknya telah mati
oleh warna-warninya jaket. Koordinasinyapun mandek karena mereka lebih bangga
mempertahankan kutur yang barbar, yang menujukkan bahwa merka yang terbaik. Haluan
Dasar Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa tak digubris, mereka masih ingin
KM-ITS terpecah tidak menginginkankan KM ITS mlaku bareng membangun negeri.
Peran BEM dalam ranah sosial politik berjalan sendiri, melangkah sendiri tanpa
ada dukungan dari masing-masing pihak di KM ITS. Peran BEM Fakultas semakin
kacau, ranah sosial kemasyarakatan yang merupakan jalan kita untuk mengabdi
pada masyarakat sekitar sepi peminat dan yang jelas bergerak dengan kesepian.
Peran HMJ sebagai keprofesian tampaknya sudah stagnan, rebut melakukan sesuatu
yang dianggap membekali mahasiswanya
tapi nyatanya memecah dan membuat KM ITS menjadi sandal pedot.
Sandal
jepit sangat membantu bagi kita semua. Dengannya kita bisa terlindungi dari
segala bahaya yang ada di latar-latar jalan. Sandal jepit memiliki tiga
penyangga. Harus utuh, agar setiap langkahnya dapat terkondisikan. Dari tiga
sisi tersebut melambangkan kondisi KM ITS. Tiga penyangga tersebut berada pada
satu titik pusat di depan. Penyangga yang paling kuat itu dimulai di tahap
pengemblengan pertama, di ranah asal masing-masing, Sandal jepit KM ITS akan
menjadi baik apabila bisa berjalan selaras antar yang kanan dan kiri sehingaa
dapat dikendalikan secara spontan oleh warganya. Kanan ataupun kiri sebenarnya
harus memiliki satu tujuan yang sama yaitu birunya ITS disamping ada tujuan lainnya.
Tapi yang jelas sandal jepit KM ITS tidak akan pernah sempurna jika sesuatu
yang kecil itu tidak di integralkan secara bersamaan dalam duatu wadah. Intinya
KM ITS harus bangkit agar sandal jepit baik disisi kanan maupun kiri dapat
berjalan bebarengan berlandaskan tiga penyangga yang terkoordinasikan secara
hakiki.
Sandal
jepit KM ITS akan bangkit jika pusat dari masalahnya telah dibenahi. Buka mata
buka telinga, bahwa sebenarnya pusat permasalahan akan jauhnya koordinasi KM
ITS pada pengkaderannya. Pengkaderan yang selama ini menjadi tonggak perubahan
paradigma dari proses transfer adik kita di SMA ternyata telah teracuni oleh
paham rasis dan barbar. Padahal sejatinya pengkaderan merupakan kawah
candradimuka, dimana seorang individu akan ditempa oleh kehidupan kampus.
Mahasiswa-mahasiswa pengkader tanpa menyadari bahwa perbuatannya melanggar
konstitusi besar KM ITS, mereka menciptakan sekat persatuan KM ITS.
Pengkaderan
di ITS memang merupakan suatu budaya memperkuat persatuan angkatan, tetapi
secara tidak langsung proses kaderisasi ini memakan korban kesatuan KM ITS.
Kaderisasi seharusnya memiliki power untuk menciptakan suasana persatuan
dijajaran KM ITS. Kaderisasi bukan hanya transfer ilmu saja, tapi kaderisasi
harus memanusiakan manusia. Nilai-nilai ini kerap hilang ditelan zaman.
Termatikanlah semua unsur-unsur yang ada pada jiwa mahasiswa dimana yang tua
menindas yang muda. Seperti yang pernah dikatakan oleh Soe Hok Gie :
“Masih terlalu
banyak mahasiswa yang sok kuasa. Merintih kalau ditekan tapi menindas ketika
berkuasa. Mementingkan golongan , ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap
tahun ada adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban baru
untuk di tipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”
Kata-kata
ini sangat menyeletuk hati saya. Membuat sya terus merenung akan kekolotan
mahasiswa dalam membangun kaderisasi di KM ITS ini. Kaderisasi haruslah
demokratis tidak mengekang mahsiswa untuk terus berada di himpunan-himpunan
saja. Kaderisasi haruslah melepaskan mahasiswa baru untuk mencari
kreatifitasnya. Himpunan tetap harus menjiwai jiwa mahasiswa tetapi mahasiswa
harus berani berkontribusi demi terwujudnya KM ITS yang sinergi. Beidang-bidang
sosial kemasyarakatan haru terisi oleh bermacam jiwa, agar setiap pergerakannya
terasa persatuan dan perpaduannya. Selain itu, dalam mendukung ranah sosial
politik jiwa-jiwa jurusan perlu dikombinasikan agar setiap kebijakan politik KM
ITS mempunyai daya dobrak yang kuat dengan logika scienticanya.
Kepalkan
tangan lalu kita sorakkan bersama kerjasama di nafas perjuangan KM ITS. Dimulai
dari lingkup yang kecil, lingkup keluarga mahasiswa. Dengan kaderisaSi yang
tersinkronisasi, demokratis dan menjunjung tinggi religiusitas. KM ITS harus
bangkit ! sandal jepit KM ITS harus kuat !. Untuk itu mari kita kobarkan
semangat biru ITS untuk Merah Putih Indonseia. Nasionalisme harga mati,
kaderisasi sumber inspirasi, dan MUBES IV konstitusinya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar