Rabu, 31 Juli 2013

Sandal Jepit KM ITS



“Universitas adalah tempat untuk memahirkan diri kita, bukan saja di lapangan technical and managerial know how, tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di lapangan ideologi, di lapangan pikiran. Jangan sekali-kali universitas menjadi tempat perpecahan.”
(Bung Karno)
           
Langkah gerak KM-ITS seakan pincang tak berarah, tak terakomodir dalam satu kesatuan yang hakiki. Tak bisa melangkah bersama lagi. Terpecahkan oleh sesuatu yangh menjadi dasar pergerakan. Sia-sia dan mubazir, itulah KM-ITS yang sekarang. Wadah yang sebenarnya mengakomodir pergerakan ini sekarang bersifat individualistis, berjalan sendirian dalam lapangan pikiran masing-masing. Technical berkumpul dengan technical, keprofersian berkumpul keprofesian, dan managerial berkumpul managerial. KM-ITS tidak salah, konstitusinya juga tidak salah, tapi sandal jepitnya terputus.

Tak sempurna ibarat sandal jepit terputus salah satu penyangganya, Baik di kaki kanan maupun kiri, semuanya putus. Memang tersamarkan tapi mau bagaimana lagi, bisa dirasakan tapi tak dirubah. Para adik-adik kelasku dari SMA menjadi korbannya, dibumbui untaian-untaian manis jakat-jaket yang indah nan elok berwarna-warni bagai bunga edelweiss yang selalu mekar di kawah candradimuka kehidupan kampus perjuangan. Perjuangan bung !! ada perjuangan yang harus kita hadapi sekarang, melawan sesuatu yang sudah nyata dan terasa.

Tersematkan ! Melihat sekilas refleksi dari perjalanan kehidupan Organisasi Kemahasiswaan di ITS telah banyak mengalami berbagai perubahan sebagai bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa dari waktu kewaktu. Berawal dari bentuk organisasi mahasiswa (ormawa) intra dan ekstra kampus saat itu, akhirnya memberikan nuansa persaingan aktifitas kemahasiswaan baik di ekstra kampus maupun di intra kampus dan antar keduanya. Keduanya saling sikut memperebutkan eksistensinya, untuk itu munculah suatu konstitusi dasar KM-ITS yang berupa MUBES.

MUBES IV KM-ITS yang ada sekarang tak berguna ! tapi bukan salah MUBES IV, tapi salah setiap indivisu-individu yang bercokol di himpunan masing-masing. Yang bersifat super kultural, yang bersifat membentengi diri dari segala macam perbuhan kearah depan. Sinkronisasi yang ditawarkan oleh MUBES IV tidak terealisasikan, tercampakan oleh otak-otak bebal para pengampu kulturalisasi budaya. BEM, HMJ, dan BEM Fakultas berjalan sendiri-sendiri terpisahkan, berangkat sendiri pulang sendiri.
Sandal Jepit Pedot ! itulah KM-ITS yang sekarang. Wawasan intregralistiknya telah mati oleh warna-warninya jaket. Koordinasinyapun mandek karena mereka lebih bangga mempertahankan kutur yang barbar, yang menujukkan bahwa merka yang terbaik. Haluan Dasar Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa tak digubris, mereka masih ingin KM-ITS terpecah tidak menginginkankan KM ITS mlaku bareng membangun negeri. Peran BEM dalam ranah sosial politik berjalan sendiri, melangkah sendiri tanpa ada dukungan dari masing-masing pihak di KM ITS. Peran BEM Fakultas semakin kacau, ranah sosial kemasyarakatan yang merupakan jalan kita untuk mengabdi pada masyarakat sekitar sepi peminat dan yang jelas bergerak dengan kesepian. Peran HMJ sebagai keprofesian tampaknya sudah stagnan, rebut melakukan sesuatu yang dianggap membekali mahasiswanya  tapi nyatanya memecah dan membuat KM ITS menjadi sandal pedot.

Sandal jepit sangat membantu bagi kita semua. Dengannya kita bisa terlindungi dari segala bahaya yang ada di latar-latar jalan. Sandal jepit memiliki tiga penyangga. Harus utuh, agar setiap langkahnya dapat terkondisikan. Dari tiga sisi tersebut melambangkan kondisi KM ITS. Tiga penyangga tersebut berada pada satu titik pusat di depan. Penyangga yang paling kuat itu dimulai di tahap pengemblengan pertama, di ranah asal masing-masing, Sandal jepit KM ITS akan menjadi baik apabila bisa berjalan selaras antar yang kanan dan kiri sehingaa dapat dikendalikan secara spontan oleh warganya. Kanan ataupun kiri sebenarnya harus memiliki satu tujuan yang sama yaitu birunya ITS disamping ada tujuan lainnya. Tapi yang jelas sandal jepit KM ITS tidak akan pernah sempurna jika sesuatu yang kecil itu tidak di integralkan secara bersamaan dalam duatu wadah. Intinya KM ITS harus bangkit agar sandal jepit baik disisi kanan maupun kiri dapat berjalan bebarengan berlandaskan tiga penyangga yang terkoordinasikan secara hakiki.
           
Sandal jepit KM ITS akan bangkit jika pusat dari masalahnya telah dibenahi. Buka mata buka telinga, bahwa sebenarnya pusat permasalahan akan jauhnya koordinasi KM ITS pada pengkaderannya. Pengkaderan yang selama ini menjadi tonggak perubahan paradigma dari proses transfer adik kita di SMA ternyata telah teracuni oleh paham rasis dan barbar. Padahal sejatinya pengkaderan merupakan kawah candradimuka, dimana seorang individu akan ditempa oleh kehidupan kampus. Mahasiswa-mahasiswa pengkader tanpa menyadari bahwa perbuatannya melanggar konstitusi besar KM ITS, mereka menciptakan sekat persatuan KM ITS.

Pengkaderan di ITS memang merupakan suatu budaya memperkuat persatuan angkatan, tetapi secara tidak langsung proses kaderisasi ini memakan korban kesatuan KM ITS. Kaderisasi seharusnya memiliki power untuk menciptakan suasana persatuan dijajaran KM ITS. Kaderisasi bukan hanya transfer ilmu saja, tapi kaderisasi harus memanusiakan manusia. Nilai-nilai ini kerap hilang ditelan zaman. Termatikanlah semua unsur-unsur yang ada pada jiwa mahasiswa dimana yang tua menindas yang muda. Seperti yang pernah dikatakan oleh Soe Hok Gie :

Masih terlalu banyak mahasiswa yang sok kuasa. Merintih kalau ditekan tapi menindas ketika berkuasa. Mementingkan golongan , ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun ada adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban baru untuk di tipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”

Kata-kata ini sangat menyeletuk hati saya. Membuat sya terus merenung akan kekolotan mahasiswa dalam membangun kaderisasi di KM ITS ini. Kaderisasi haruslah demokratis tidak mengekang mahsiswa untuk terus berada di himpunan-himpunan saja. Kaderisasi haruslah melepaskan mahasiswa baru untuk mencari kreatifitasnya. Himpunan tetap harus menjiwai jiwa mahasiswa tetapi mahasiswa harus berani berkontribusi demi terwujudnya KM ITS yang sinergi. Beidang-bidang sosial kemasyarakatan haru terisi oleh bermacam jiwa, agar setiap pergerakannya terasa persatuan dan perpaduannya. Selain itu, dalam mendukung ranah sosial politik jiwa-jiwa jurusan perlu dikombinasikan agar setiap kebijakan politik KM ITS mempunyai daya dobrak yang kuat dengan logika scienticanya.


Kepalkan tangan lalu kita sorakkan bersama kerjasama di nafas perjuangan KM ITS. Dimulai dari lingkup yang kecil, lingkup keluarga mahasiswa. Dengan kaderisaSi yang tersinkronisasi, demokratis dan menjunjung tinggi religiusitas. KM ITS harus bangkit ! sandal jepit KM ITS harus kuat !. Untuk itu mari kita kobarkan semangat biru ITS untuk Merah Putih Indonseia. Nasionalisme harga mati, kaderisasi sumber inspirasi, dan MUBES IV konstitusinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar