Aku bawa dua bunga mawar, merah dan putih. Aku genggam perihnya lalu kucium bau wanginya. Aku mencintainya, merindukannya dan kutanamkan pada hatiku. Dan itulah Indonesiaku, penuh pesakitan tapi indah negerinya.
Aku melihat bahwa banyak anak kecil mengadahkan tangannya diperempatan jalan. Lelaki tegap tertunduk lesu tak berdaya, wanita manis berkrudung lebar menangis meratapi nasibnya. Banyak manusia Indonesia tak merasakan wangi merah putih bunga mawar ini.
Dulu Soekarno dengan revolusinya menguncangkan dunia, Natsir menentramkan hati umat ini. Tapi sekarang kita dipaksa berlutut di sepatu para cukong pemerintahan. Aku merindukan sosok-sosok penentram hati, penyejuk jiwa dan pembangkit raga. Aku ingin merasakan wanginya mawar itu meski banyak duri yang harus aku genggam.
Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim)
Aku merindukan seorang pemimpin yang bertanggung jawab dengan segala keringatnya untuk bangsa ini. Indonesia kapankah dirimu punya sosok nan tanggungjawab ? Wahai rakyat indonesia, aku tak bisa memberikan kepastian itu karena aku bingung bagaimana seharusnya ?
Oh lek koyok ngono, seharusnya pemimpin di negara ini gak ucul-uculan, asal selesai dikatakan sudah tanggungjawab. Hakikatnya kepemimpinan adalah tanggung jawab dan wujud tanggung jawabnya bisa berdampak pada kesejahteraan. Analoginya jika orang tua hanya sekedar memberi makan anak-anaknya tetapi tidak memenuhi standar gizi serta kebutuhan pendidikannya tidak dipenuhi, maka hal itu masih jauh dari makna tanggung jawab yang sebenarnya. Maka dari itu, Jika pemimpin di indonesia ga iso ngopeni rakyatnya jangan harap kita bisa mencium wangi mawar itu !
Oh presiden-presiden ! kamu tak seharusnya hanya sebatas pemerintah saja, namun ngowoh melihat rakyatnya jelalatan dipinggir jalan sambil terus mengadah. Tidak ada upaya-upaya untuk mengentaskan kami menuju kesejahteraan. Sungguh menurutku belumlah dikatakan bertanggung jawab. Karena seharusnya berpihaklah kepada kami ! rakyatmu, bukannya berpihak pada bos-bos borjuis itu apalagi dengan sanak family. Oleh karena itu bangsa masih jauh dari standar dari kata sejahtera maka tanggungjawabmu masih dipertanyakan.Inilah kerancuan negara ini, kita memang butuh pemimpin yang ngopeni rakyatnya dan pastinya bukan karbitan.
Menuju tahun 2014 ini, tampaknya banyak orang-orang yang haus kekuasaan untuk jadi raja di negeri yang bobrok ini. Para mbambung-mbambung indonesia cukuplah disogok dengan dua ratus ribu dan sekresek beras miskin. Mereka berlomba-lomba jual diridi berbagai pengkolan, berapapun uangnya sikat asal kita suka sama suka. Para orang bodoh negeri ini tertipu dengan berita-berita yang hilir mudik di layar kaca itu. Ada yang pengusaha sukses, ada yang juragan TV dan yang paling parah ada keluarga kerajaan. Kalau saj masyarakat indonesia terus dijejeli propaganda seperti ini, mau tidak mau kita pasti akan terkena penyakit kere akut, lha wong permasalahan yang sepele aja ga pernah diurus dan diopeni. Tanggungjawabnya ucul-uculan dan parahnya kita seakan merem melihat ketidak adilan itu. Sejujurnya ada suatu harapan inti yang ingin saya utarakan yaitu :
“Duh Gusti Paringana Kulo Slamet, Negara Ingkang Adil lan Makmur, lan Raja Kang Ngopeni Rakyat Indonesia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar