Tepatnya tanggal 25 juli 2013, saya memulai penyelaman pemikiran di acara Bang-Bang Wetan di Balai Pemuda Surabaya. Emha sedikit menuturkan akan kajian komprehensif tentang berhala, yaitu suatu sesembahan kepada yang dianggap sebagai tuhan.
Pemberhalaan di era ini merupakan suatu inspirasi dari :
1. Latta : sosok legendaris ya ng dipuja dan diberhalakan
2. Uzza : sosok dimensi ideal yang dijadikan sesembahan
Sifat seperti ini muncul dikarenakan pemikiran orang indonesia yang selalu terjebak sebuah seremonial dan ritus. Orang indonesia kebanyakan adalah para “fans" tokoh yang sebenarnya korban pemberhalaan dari koditas pemilik modal.
Beberapa tantangan telah kita ketahui bahwasanya penokohan di indonesia dijadikan suatu patokan kebenaran. Sedikit pendapat dari emha “bahwasanya sekarang di negeri ini terjadi virus penokohan oleh media:. Misalnya pengankatan gelar KYAI dan USTAD dijadikan komoditas dagangan segar.
Pemilihan ustad dan kyai sekarang adalah pemilihan model, contohnya pemberian gelar melalui ajang Televisi
Sangatlah mengenaskan sekarang ini, jika pemilih tersebut merupakan kapitalis sejati pastilah ini hanya kepentingan keuntungan tanpa memperhatikan keberlanjutannya. Hal ini menyebabkan kita menjadi penggemar berat para tokoh buatan itu dan memberhalakannya.
Oleh karena itu sebagai generasi muda kita tak sepantasnya percaya terhadap pembodohan itu. Yang harus kita garis bawahi adalah :
"Sebagai kaum intelektual kita harus mengerti bahwasanya penokohan bukanlah hasil pencitraan belaka tetapi leboih kepada tanggung jawab dan karya terhadap umat manusia"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar