Rabu, 31 Juli 2013

Kontemplasi Kebahagiaan Cinta

Zaman ini memberikan sejuta label ‘cinta’ dimanapun kita berada. Manifestasi cinta yang dulunya merupakan rasa sastrawi sekarang menjadi kobaran syahwat para pemuda.
Apakah yang dimaksud cinta ? setiap orang pasti memiliki definisi tersendiri dalam memaknainya. Jadi sekarang kembali lagi tergantung siapa yang memaknainya.
Sajak-sajak cinta telah didengungkan seorang kahlil gibran, menyemai indahnya relung manusia. Komoditas barat menularkan pemaknaannya bahwa cinta adalah sebuah ekspresi jiwa (make a love).

Sekarang, Hasrat bercinta pemuda adalah bentuk ekspresi untuk mencapai kebahagian dan indahnya dunia ini.Bergandeng tangan, bermesraan, bahkan intim pun merupakan jalan menuju kebahagiaan.
Sedikit melihat berita beberapa hari ini saya melihat seorang narapidana gembong narkoba yang akan mati mencurahkan kisah cintanya. Seorang wanita binal pun berujar di media bahwasanya dia sangat mencintai si bandar itu karena rajin Shalat. TAPI ? sebelum shalat nyabu dulu, zina dulu abis itu shalat. Betapa disorientasinya kisah cinta kontemporer ini.
Kita rujuk tentang perkataan Al Ghazali, bahwasanya “bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Allah", hal ini sangat kontradiksi dengan kebahagian cinta ala barat. Cinta sejatinya adalah sebuah perumusan eksperisi ingin memiliki terhadap sesuatu atas dasar Allah sebagai tuhan pencipta alam.
Kata Al Ghazali dalam mencapai suatu kebahagiaan cinta berada pada tiga kekuatan :
Pertama, kekuatan marah, ketika marah ini berlebih akan membuat diri kita menjadi lepas kendali terhadap sesama dan lupa akan Allah. Tetapi jika berimbang kita akan memiliki kekuatan amar ma’ruf nahi munkar
Kedua, Kekuatan Syahwat, ketika syahwat kita tak terkendali kita akan menjadi Hewan yang menginginkan segala bentuk ekspresi hewani, kita akan menjadi sesorang yang beringas akan zina. tetapi jika kita syahwat ditempatkan secara bijak, kita akna memiliki motivaasi diri untuk selalu mendekatkan diri pada Allah
Ketiga, Ilmu. Dengan ilmu kita akan mengerti mana yang baik dan mana yang buruk sehingga kita tak akan terjerumus di jalan menuju siksa neraka.
Itulah sebabnya ketika kita ingin mencapai suatu CINTA yang hakiki, Asma Allah harus tersemat dalam jiwa kita agar kita tak salah jalan. Maka dari itu, kebahagiaan cinta memerlukan suatu Iradah (kemauan).
"Alam itu ialah kemauan" Schopenhauer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar