Agama, Islam Bukan Negara
Kali ini kita akan berbicara bahwa konseptual Islam, Agama bukan negara merupakan kesalahan yang amat besar. Barat mendeskrisipkan islam sebagaimana mendeskripsikan falsafah Kristen dalam memaknai hubungan agama dengan negara. Pemikiran pemisahan antara agama dan negara terjadi Karena adanya suatu pertentangan antara kaum feodal dengan agamawan sehingga muncul suatu hegemoni dimana kekuasaan negara di barat berada di tangan angkatan bersenjata dan undang-undang. Dari situ barat mulai membuat pengertian tersendiri tentang agama yaitu dengan menyerahkan urusan spiritual bagi masing-masing individu. Selain itu pemisahan ini didasarkan bahwa agama apapun yang muncul setelah agama Kristen harus didasarkan pada penafsiran Kristen yang hanya sebatas pada tingkat spiritualisme.
Lalu munculah propaganda bahwa islam itu juga mengatur tentang hubungan antarindividu selain mengajak pada kebersihan jiwa, maka orang barat menggolongkan islam sebagai bukan agama. Karena islam mengatur tentang hubungan antar manusia maka islam berarti buatanmanusia. Itulah yang mendasaroi terjadinya sekulerisme.
Munculah pembaharuan islam dimana aruzs sekulerisme berkembang sehingga “manusia yang terkontaminasi oleh pemikiran barat berusaha membuktikan bahwa islam adalah agama dengan sekuler”. Dan akhirnya kita bertaklid pada barat dengan cara mengambil pandangan-pandangan yang bersumber barat, Taklid kepada pandangan barat yang jelas penuh dengan kelemahan dan celah. Padahal sebagai seorang reformer kita seharusnya bisa melakukan perubahan dengan paham yang ada pada islam, karena sudah diaturlah konsep hubungan yang menyeluruh pada islam. Dan sekarang timur hanya menjadi pengimopor bukan invertor. Lalu pertanyaannya apakah Sekarang Timur sudah sadar untuk mengekspor pahamnya seperti dahulu .
Menuntut Marxis
Marx berpikir dengan konsep kontradiksinya “semua itu akan berubah” sebagaimana tesis, antithesis dan sintesa yang diuangkap hegel. Dalam pandangan ini marx berusaha memadukan dengan konsepnya bahawa tesis merupakan sesuatu, antithesis merupakan lawan dari sesuatu, sedangkan sintesa merupakan akumulasi sesuatu dengan lawannya sehingga mencapai suatu kesimpulan bahwa semuanya harus ber:”Revolusi”. Kita harus mengamati bahwa revolusi yang ditawarkan marx sangat absurd, karena marx tak bisa membuktikan bahwa masyarakat komunis merupakan masyarakat tertinggi. Pemahaman marx mengenai komunis dapat teruraikan sebagai berikut :
1. . Masyarakat monarki telah hancur dan menjadi lain karena terjadi pemerintahan yang kaya dan rakyat jelata yang miskin.
2. Dari dua kelas tersebut munculah sintesanya yaitu masyarakat feudal. Dimana dia merupakan kelas perantara.
3. Lalu adanya perjuangan kelas feudal yang semakin kaya menimbulkan suatu perubahan yaitu kapitalisme industry. Dan masyarakat feudal lenyap.
4. Karena tumbuhnya kapitalisme maka marx beranggapan bahwa adanya kelas pemilik modal dan buruh akan bertimpang. Maka pasti akan tumbang salah satu. Dan munculah kekuatan buruh dan akhirnya muncul kelas baru yaitu masyarakat dengan satu kelas.
Namun apakah hal ini akan terhenti ? padahal seharusnya terjadi lagi suatu prinsip kontradiksi dimana akan muncul lagi masyarakat yang lebih baik lagi. Seperti dasar yang dikemukakan Marx Bahwa setiap masyarakat yang lebih tinggi maka akan lebih baik dari sebelumnya.
Kita harus berpikir ? Marx harus kita tuntut ? karena teorinya tak mempunyai visi kedepan ? mematikan kontradiksi yang ia kemnukakan.
Abduh dengan Pendidikannya
Dengan pemikiran revolusionernya abduh memiliki konseptual mengapa kita harus membela negara yang temaktub pada poin berikut :
• Ia tempat tinggal dimana terdapat makanan, warga dan seluruh keluarga.
• Ia wadah hak-hak dan kewajiban, itulah inti kehidupan politik, dan merupakan kebutuhan nyata.
• Ia tempatg menisbatkan diri yang bisa mulia, terjajah atau terhina, keadaan abstrak.
Itulah yang harusny kita pahami bahwa seorang muslim kita harus melawan penindasan yang ada pada negara kita tercinta. Dan contohnya ketika kita membuat undang” sebagaimana yang diungkapkan abduh kita harus memperhatikan nilai-nilai yang bermanfaat dan bukan berasal dari copy-an budaya asing.
Lalu dalam hal pendidikan Abduh menyatakan bahwasanya “ Jika kita menyelidiki tentang sebab keterbelakangan ummat Islam, maka akan diketahui satu sebab, yakni : adanya kemandekan dalam pendidikan agama. Baik dengan melalaikan pendidikan agama itu sebagaimana di beberapa negara, atau karena dilaksanakan dengan cara yang tidak benar”. Hal ini membuat bangas timur tak maju lagi karena jauhnya kita terhadap sisi intelektualoitas agama.Dan salah satu warisan abduh yaitu meletakkan prinsip-prinsip untuk penulisan modern, dan menggambarkan sistematika penafasiran Al- Qur’an. Prinsip-prinsip itu ada pada karangannya Risalah Tauhid, dan dalam tafsirnya terhadap Kitabulllah. Sistematika penafsiran Alquran yang dikemukakannya berdasarkan prinsip :
1. Menyesuaikan peristiwa-peristiwa yang ada pada masanya dengan nash-nash Al-Quran. Baik dengan memperluas nash, maupun analogi.
2. Menggangap Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh. Tidak boleh beriman kepaada sebagian dan meninggalkan sebagaian yang lain. Memahami baginya tergantung kepada pemahaman terhadap seluruh isinya.
3. Menggap surat sebagai dasar untuk memahami ayat-ayat.
4. Bahasa yang dibuat-buat harus dijauhi dalam menafsirkan Al Qur’an, sebab tafsiran bukan untuk melatih kemampuan bahasa.
5. Tak boleh melainkan peristiwa-peristiwa sejarah dalam perjalanan dakwah Islam, untuk menafsirkan ayat-ayat yang turun pada waktunya.
Sehingga Abduh membentuk cakrawala baru bagi kehidupan ummat Islam, sebagaimana dakwah yang pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar