Media massa merupakan salah satu sumber
informasi yang banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Saat ini
orientasi media dalam memberikan informasi nampaknya bergeser dari orientasi
profit menuju orientasi politik. Akhirnya setiap berita yang ada terwarnai oleh
kepentingan politik suatu organisasi.
Perpolitikan Indonesia rupanya mulai merambah
ke politik pencitraan. Atmosfer kampanye lisan yang selama ini menjadi trendmark
di jalananan sudah mulai pudar, tak seramai dahulu 15 tahun yang lalu ketika
kita masih SD. Tawar menawar program kerja sudah tidak terlihat lagi, tergeser
oleh pertempuran para pemain politik dalam mencitrakan diri. Setiap pemain
politik berusaha berlomba-lomba mencitrakan diri mereka dengan sekretatif
mungkin. Kita sering melihat janji-janji yang terpampang di baliho kreatif yang
menyuguhkan gerakan perubahan, tapi dalam aktualisasinya tak terbukti. Sah-sah
saja kalau kita menggunakan bantuan media massa dalam mencitrakan diri kita,
tapi paling tidak harus diperhatikan juga adalah visi dan misinya.
Memang
media massa saat ini merupakan sarana yang sangat baik untuk mencitrakan
para politikus. Media massa juga sangat efektif untuk membentuk opini publik
yang ada dalam masyarakat kita. Menyuarakan segala pesan politik bagi institusi
politik dan sangat bermanfaat bagi kepentingan politis suatu institusi. Tapi
ada beberapa poin yang harus kita soroti di era politik pencitraan ini, karena
masyarakat kurang cerdas dalam menyikapi hubungan media dengan politik
Indonesia sehingga masyarakat sering terperdaya oleh pencitraan yang
digembar-gemborkan oleh media massa.
Dari beberapa kondisi yang ada dalam kehidupan
perpolitikan ini, dapat kita kaji beberapa peranan media dibawah ini :
1. Media sangat berperan dalam pembentukan opini
publik. Dalam pembentukan suatu opini publik peran informasi sangatlah kuat
untuk mempengaruhi pemikiran setiap masyarakat. Salah satu proses pembentuk
opini publik adalah proses pencitraan pemain politik, dimana dengan dorongan
kuatnya masyarakat sedikit banyak akan terpengaruh. Ketika kekuatan
politik ingin mencitrakan pemainya, cukup dengan membanjiri informasi tentang
kelebihan pemainnya di media massa. Begitu juga sebaliknya, ketika ingin
membentuk negatif personal lawan politik, hanya dengan menembakkan issu negatif
seputar lawan politiknya. Jadi cukup dengan pencitraan dan penyebaran issu
opini public dapat dikendalikan oleh media massa.
2. Dengan adanya
pembrntukan opini public, media memiliki keuntungan lebih yaitu memiliki
kekuatan politik. Hasil dari tokoh yang dicitrakan oleh media menjadi titik
dibalik untuk mendapatkan kekuasaan politik dari calon tersebut. Hal ini sangat
menguntrungkan bagi media dalam penyampaian ide-ide politik yang tersemayam
dalam instansi media tersebut. Contohnya Metro Tv yang mempunyai keterikatan
politis dengan partai Nasional Demokrasi sehingga dalam penyebaran informasinya
memihak ke partai tersebut. Jika partai tersebut menang maka secara tidak langsung
Metro TV mendapat kekuatan politis. Tidak mengherankan bahwa kemunculan media
massa di Indonesia tidak hanya dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi saja. Hal
ini juga terkait erat dengan keinginan untuk berkuasa. Akhirnya kebijakan
politik yang ada pada masyarakat sekitar tidak semua diputuskan oleh institusi
politik saja tetapi disitu juga ada peran media sebagai pengonsep isu dan
gagasan.
3. Partai politik
dalam mencanangkan gagasanya memerlukan alat komunikasi politiknya. Media massa
sangat berperan aktif dalam proses komunikasi politik karena setiap media massa
memiliki kekuatan untuk menyampaikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh
partai politik. Selain itu melalui pesan yang disampaikan oleh media massa
secara tidak langsung membangun hubungan keterikatan antara media massa dengan
partai politik. Dimana institusi politik yang menang akan memberikan kekuasan
bagi media untuk bergerak lebih bebas, sedangkan institusi politik mendapatkan
sarana untuk komunikasi dan pencitraan politiknya.
4. Ketika setiap institusi
politik memiliki mitra dengan suatu media, tidak akan dapat dipungkiri akan
terjadi pertempuran politis antar media massa. Dimana setiap media massa
berlomba-lomba mencitrakan tokoh politik yang berafiliasi dengannya sehingga
antar media massa terjadi saling memberikan stigma negatif pada setiap lawan
politisnya. Hal ini menunjukkan bahwa media massa bersikap tidak netral dan
memihak salah satu lembaga. Jadi dapat diketahui bahwa media sekarang ini sudah
tidak obyektif lagi dan syarat akan kepentingan politik.
Dari beberapa poin diatas menunjukan kekuatan
media sistem perpolitikan di bangsa ini sangatlah kuat. Kenetralan suatu media
hendaknya harus kita kritisi bersama di era demokrasi yang begitu bebas ini.
Untuk menyikapi hubungan manis antara media dan institusi politik, kita
seyognya harus kritis terhadap informasi yang disampaikan oleh media karena
tidak ada yang bisa menjamin kebenaran informasinya. Kebenaran informasi
akhirnya tergerus oleh pertempuran politik yang menggunakan media sebagai
sarana membumikan pesan dan gagasan poltik patnernya.
Wahai Mahasiswa!! Ditengah ketidaksehatan
media, di tengah kerancuan media. Pencerdasan tentang media perlu kita upayakan
agar kita tidak terbius oleh pencitraan semata. Banyak sekali orang termakan
dengan pencitraan, kebaikan visi dan misi terlupakan oleh arus pencitraan.
Marilah kita jadikan media sebagai sarana pembelajaran politik yang kreatif
untuk membumikan gagasan kita. Bukan untuk pencitraan semata, bukan untuk
menjatuhkan lawan. Keobyektifan harus kita junjung tinggi untuk menjadi
generasi yang jujur. Tuangkan segala gagasan kita ke media dengan baik,
hidupkanlah demokrasi yang sehat. Di kampus ini marilah kita jadikan media
sebagai sarana alat komunikasi poltik kita, visi misi kita, dan yang terpenting
bukan untuk pencitraan semata.
“Pencitraan itu perlu, tapi Visi dan Misi itu wajib”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar