Jumat, 13 September 2013

Musim Pemilu ! Pencitraan Bin Media


Media massa merupakan salah satu sumber informasi yang banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Saat ini orientasi media dalam memberikan informasi nampaknya bergeser dari orientasi profit menuju orientasi politik. Akhirnya setiap berita yang ada terwarnai oleh kepentingan politik suatu organisasi.

Perpolitikan Indonesia rupanya mulai merambah ke politik pencitraan. Atmosfer kampanye lisan yang selama ini menjadi trendmark di jalananan sudah mulai pudar, tak seramai dahulu 15 tahun yang lalu ketika kita masih SD. Tawar menawar program kerja sudah tidak terlihat lagi, tergeser oleh pertempuran para pemain politik dalam mencitrakan diri. Setiap pemain politik berusaha berlomba-lomba mencitrakan diri mereka dengan sekretatif mungkin. Kita sering melihat janji-janji yang terpampang di baliho kreatif yang menyuguhkan gerakan perubahan, tapi dalam aktualisasinya tak terbukti. Sah-sah saja kalau kita menggunakan bantuan media massa dalam mencitrakan diri kita, tapi paling tidak harus diperhatikan juga adalah visi dan misinya.

Memang  media massa saat ini merupakan sarana yang sangat baik untuk mencitrakan para politikus. Media massa juga sangat efektif untuk membentuk opini publik yang ada dalam masyarakat kita. Menyuarakan segala pesan politik bagi institusi politik dan sangat bermanfaat bagi kepentingan politis suatu institusi. Tapi ada beberapa poin yang harus kita soroti di era politik pencitraan ini, karena masyarakat kurang cerdas dalam menyikapi hubungan media dengan politik Indonesia sehingga masyarakat sering terperdaya oleh pencitraan yang digembar-gemborkan oleh media massa.

Dari beberapa kondisi yang ada dalam kehidupan perpolitikan ini, dapat kita kaji beberapa peranan media dibawah ini :
1.      Media sangat berperan dalam pembentukan opini publik. Dalam pembentukan suatu opini publik peran informasi sangatlah kuat untuk mempengaruhi pemikiran setiap masyarakat. Salah satu proses pembentuk opini publik adalah proses pencitraan pemain politik, dimana dengan dorongan kuatnya masyarakat sedikit banyak akan terpengaruh. Ketika kekuatan politik ingin mencitrakan pemainya, cukup dengan membanjiri informasi tentang kelebihan pemainnya di media massa. Begitu juga sebaliknya, ketika ingin membentuk negatif personal lawan politik, hanya dengan menembakkan issu negatif seputar lawan politiknya. Jadi cukup dengan pencitraan dan penyebaran issu opini public dapat dikendalikan oleh media massa.

2.      Dengan adanya pembrntukan opini public, media memiliki keuntungan lebih yaitu memiliki kekuatan politik. Hasil dari tokoh yang dicitrakan oleh media menjadi titik dibalik untuk mendapatkan kekuasaan politik dari calon tersebut. Hal ini sangat menguntrungkan bagi media dalam penyampaian ide-ide politik yang tersemayam dalam instansi media tersebut. Contohnya Metro Tv yang mempunyai keterikatan politis dengan partai Nasional Demokrasi sehingga dalam penyebaran informasinya memihak ke partai tersebut. Jika partai tersebut menang maka secara tidak langsung Metro TV mendapat kekuatan politis. Tidak mengherankan bahwa kemunculan media massa di Indonesia tidak hanya dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi saja. Hal ini juga terkait erat dengan keinginan untuk berkuasa. Akhirnya kebijakan politik yang ada pada masyarakat sekitar tidak semua diputuskan oleh institusi politik saja tetapi disitu juga ada peran media sebagai pengonsep isu dan gagasan.

3.      Partai politik dalam mencanangkan gagasanya memerlukan alat komunikasi politiknya. Media massa sangat berperan aktif dalam proses komunikasi politik karena setiap media massa memiliki kekuatan untuk menyampaikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh partai politik. Selain itu melalui pesan yang disampaikan oleh media massa secara tidak langsung membangun hubungan keterikatan antara media massa dengan partai politik. Dimana institusi politik yang menang akan memberikan kekuasan bagi media untuk bergerak lebih bebas, sedangkan institusi politik mendapatkan sarana untuk komunikasi dan pencitraan politiknya.

4.      Ketika setiap institusi politik memiliki mitra dengan suatu media, tidak akan dapat dipungkiri akan terjadi pertempuran politis antar media massa. Dimana setiap media massa berlomba-lomba mencitrakan tokoh politik yang berafiliasi dengannya sehingga antar media massa terjadi saling memberikan stigma negatif pada setiap lawan politisnya. Hal ini menunjukkan bahwa media massa bersikap tidak netral dan memihak salah satu lembaga. Jadi dapat diketahui bahwa media sekarang ini sudah tidak obyektif lagi dan syarat akan kepentingan politik.         

Dari beberapa poin diatas menunjukan kekuatan media sistem perpolitikan di bangsa ini sangatlah kuat. Kenetralan suatu media hendaknya harus kita kritisi bersama di era demokrasi yang begitu bebas ini. Untuk menyikapi hubungan manis antara media dan institusi politik, kita seyognya harus kritis terhadap informasi yang disampaikan oleh media karena tidak ada yang bisa menjamin kebenaran informasinya. Kebenaran informasi akhirnya tergerus oleh pertempuran politik yang menggunakan media sebagai sarana membumikan pesan dan gagasan poltik patnernya.

Wahai Mahasiswa!! Ditengah ketidaksehatan media, di tengah kerancuan media. Pencerdasan tentang media perlu kita upayakan agar kita tidak terbius oleh pencitraan semata. Banyak sekali orang termakan dengan pencitraan, kebaikan visi dan misi terlupakan oleh arus pencitraan. Marilah kita jadikan media sebagai sarana pembelajaran politik yang kreatif untuk membumikan gagasan kita. Bukan untuk pencitraan semata, bukan untuk menjatuhkan lawan. Keobyektifan harus kita junjung tinggi untuk menjadi generasi yang jujur. Tuangkan segala gagasan kita ke media dengan baik, hidupkanlah demokrasi yang sehat. Di kampus ini marilah kita jadikan media sebagai sarana alat komunikasi poltik kita, visi misi kita, dan yang terpenting bukan untuk pencitraan semata. 



Pencitraan itu perlu, tapi Visi dan Misi itu wajib”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar