Sebagai
seorang mahasiswa,
Dengan
itu aku merenung,
Melihat
pak tua terhuyun jalannya,
Pemuda
hilang budinya,
Aktivis
hilang akhlaknya,
Dan
konsisten bimbang
Tanganku kumasukan ke saku
jaketku,
berbicara
apa dan siapakah aku
langit
satuis di awal tahun bergemerlapan,
Dar
dor der bunyinya,
Pemuda
bercengkrama,
Bersorak
sorai melupakan kepekaannya,
Sekelumit orang yang hanya bersimbah,
Mentasbihkan
cita-citanya,
Yang
lainya mengebreng riang,
Dengan
calon ronsokan besinya,
Dan
membakar kertas guna kesenangan pribadinya
Totalitasitus di era baru ini,
Semoga
baermanfaat,
bagi
Tuhan, Bangsa dan Kemanusiaan,
Walau
dengan sedikit bimbang dan gamang,
Akan
sebuah kepekaan dan Konsistensi,
Terakhir,
Kembalilah
ke Iman
Ke
dasar pokok Perjuangan
Kutuliskan sajak ini
di depan laptop, sambil terngantuk-kantuk. Sebuah sajak yang tertuliskan ketika
seorang mahasiswa harus dituntuntut kepekekaannya. Dimana sorak sorai
pergantian tahun tersajikan sebagai sebuah kegalauan. Antara suata hiburan
ataukan suatu kesia-siaan. Maknailah dengan hatimu lalu pikirkanlah. Ini memang
terkesan teoritis jika kita tidak bisa memahaminya secara luas dan terbuka.
Semoga menjadi pencerahan bagi pemuda yang sekarang dituntut peka oleh tetuanya
ketika memasuki dunia kampus yang begitu indah dan menggelor-A-.
"Maknai sendiri dengan hatimu karena kau yang paling tahu"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar