Sabtu, 03 Agustus 2013

Sajaktis Refleksionis Satuis


Kita dituntut peka,
Sebagai seorang mahasiswa,
Dengan itu aku merenung,
Melihat pak tua terhuyun jalannya,
Pemuda hilang budinya,
Aktivis hilang akhlaknya,
Dan konsisten bimbang
tanpa tujuan arah,

Tanganku kumasukan  ke saku jaketku,
berbicara  apa  dan siapakah  aku
langit  satuis  di awal tahun bergemerlapan,
Dar dor der bunyinya,
Pemuda bercengkrama,
Bersorak sorai melupakan kepekaannya,

Sekelumit orang yang hanya bersimbah,
Mentasbihkan cita-citanya,
Yang lainya mengebreng riang,
Dengan calon ronsokan besinya,
Dan membakar kertas guna kesenangan pribadinya

Totalitasitus di era baru ini,
Semoga baermanfaat,
bagi Tuhan, Bangsa dan Kemanusiaan,
Walau dengan sedikit bimbang dan gamang,
Akan sebuah kepekaan dan Konsistensi,

Terakhir,
Kembalilah ke Iman
Ke dasar pokok Perjuangan

Kutuliskan sajak ini di depan laptop, sambil terngantuk-kantuk. Sebuah sajak yang tertuliskan ketika seorang mahasiswa harus dituntuntut kepekekaannya. Dimana sorak sorai pergantian tahun tersajikan sebagai sebuah kegalauan. Antara suata hiburan ataukan suatu kesia-siaan. Maknailah dengan hatimu lalu pikirkanlah. Ini memang terkesan teoritis jika kita tidak bisa memahaminya secara luas dan terbuka. Semoga menjadi pencerahan bagi pemuda yang sekarang dituntut peka oleh tetuanya ketika memasuki dunia kampus yang begitu indah dan menggelor-A-. 

"Maknai sendiri dengan hatimu karena kau yang paling tahu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar