“Rama rela berkorban untuk melawan Dasamuka demi cintanya yang terpatri
pada Shinta. Itulah arti pengorbanan yang suci tanpa maksud tersembunyi,
bagaimanakah sekarang ?” – manifesto perenungan
Sebuah tantangan di zaman ini,
ketika cinta telah kehilangan makna filosofis. Cinta yang sejatinya merupakan lambang
kasih sayang seakan amnesia tentang pemaknaanya. Modernisasi seakan menjadi
bayangan besar yang mengubah makna cinta. Sekarang cinta menjadi sosok yang tak
terkontrol, tak ada batas dan menjadi manifest binatang.
Apakah engkau tak pernah
merasakan bagaimana kisah suci tentang cinta itu ? ataukah kita telah
kehilangan akal kita. Andai saja kita membayangkan berada pada zaman dimana
blangkon masih di kepala kita, dimana jarit masih melekat ditubuh kita, kita
akan selalu ingat bahwasanya memandangpun kita taka akan pernah berani. Zaman
itu menunjukkan pemaknaan yang mendalam tentang cinta, meski feodalisme
membatasi ekspresi kasih ini. Sejujurnya dalam catatan ini pembahasan, saya ingin
membayangkan tentang dimensi cinta yang ada.
Alkisah, Cinta Gadis Pantai ala
Pram
Dimulailah kisah cinta ini dimana
seorang gadis desa ditepian pantai dilamar oleh seorang bendoro dari rembang.
Gadis itu tak punya kuasa dia hanya gadis golongan bawah dia menyandarkan
hidupnya pada ombak yang menerjang pada jiwa ayahnya. Dia polos, dia selalu
mempertanyakan apakah bendoro mencintainya ? tapi apa gerangan bendoro ternyata
hanya mengingkan seorang anak, anak yang akan meneruskan trahnya . Wal akhir
gadis pantai pergi diusir setelah dia melahirkan anaknya. Pram mengambarkan
sebuah kisah klasik cinta penuh feodalisme. Tapi satu nilai yang bisa kita
petik disini, Gadis pantai menjadi sosok yang kuat mempertahankan cintanya
sebagai istri dan kasih sayangnya terhadap anak. Sekali lagi Pram menggambarkan
kisah cinta klasik penuh haru.
Cinta ala HAMKA
Secuil kata yang merangkai “Cinta
itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana
setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah
yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti
yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji.”
Adalah bagaimana HAMKA memaknai
suatu cinta dimana mahabahtullah menjadi suatu pegangan yang pasti. Cinta kepada
tuhanlah yang membawa seluruh perangai kita menjadi pengasih dan penyayang.
"Ana uhibbuki fillah" tak sekedar dilafadzkan seorang lelaki
sebagaimana pemanis untuk mendekatkan rasa nafs kita kepada sosok wanita, tapi
kata ityu merupakan azimat yang harus dipeang teguh esensi keindahaan dan
kepatuhan kita terhadap Allah.
HAMKA pun menuliskan penanya
dalam sebuah karyanya Tenggalamnya Kapal Van Der Wijck dimana kisah cinta
Zainuddin dan Hayati bisa menjadi kisah cinta yang bertahan untuk selamanya.
Hayati ternyata menikah dengan Aziz karena keluarganya lebih merestuinya. Cinta
zainuddin dan Hayati tak pernah padam, cinta itu terus menggelora dalam
hatinya. Pada akhirnya kisah cinta ini berakhir dengan meninggalnya Hayati yang
karam dari kapal dan sakitnya zainuddin. Itulah takdir yang tidak bisa kita
cegah lagi. Seperti halnya dalam hidup
kita, ketika kita melihat orang yang kita cintai bersama oranglain maka
tenanglah karena sesungguhnya ketenangan dan kesabaranlah yang akan menguji
dirimu menjadi lebih baik. Tak aka nada yang sia-sia dalam kesabaran karena
takdir akan selalu memiliki jalan yang tepat dihadapan Allah.
Cinta pada seseorang tak
selamanya bisa kita miliki, tak selamanya juga kita bisa mencintainya, tapi
selalu ingatlah selalu cintailah Allah. Satu untaian kata yang harus kau
ucapkan ketika melihat orang yang engkau cintai bersama dengan orang lain,
ucapkan dzikir dan doa kepada Allah dengan sepenuh cintamu agar orang yang
engkau cintai diberi jalan yang terbaik.
Setetes Cinta
Setetes itu adalah pengorbanan dengan tulus,
Setetes itu adalah Doa yang selalu terucap
Setetes itu adalah keikhlasan kita
Serahkan semuanya pada Sang Pencipta
Ingatlah tak ada yang salah pada dunia ini
Karena pada dasarnya kita ada untuk berbagi,
Manakala Gundah
Ingatlah selalu bahwasanya ketika
dirimu mencintai seseorang dasarilah pada ketetapan Tuhan karena segala
firmannya adalah sebuah petunjuk bagi kita. Janganlah merasa engkau sendiri
jika tak ada yang berada disampingmu setiap waktu karena perlu engkau ketahui
bahwa sebenarnya Tuhan telah menggariskan siapa yang akan menemanimu manakala
engkau gundah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar