Senin, 10 Maret 2014

Menakar Setetes Cinta



“Rama rela berkorban untuk melawan Dasamuka demi cintanya yang terpatri pada Shinta. Itulah arti pengorbanan yang suci tanpa maksud tersembunyi, bagaimanakah sekarang ?” – manifesto perenungan

Sebuah tantangan di zaman ini, ketika cinta telah kehilangan makna filosofis. Cinta yang sejatinya merupakan lambang kasih sayang seakan amnesia tentang pemaknaanya. Modernisasi seakan menjadi bayangan besar yang mengubah makna cinta. Sekarang cinta menjadi sosok yang tak terkontrol, tak ada batas dan menjadi manifest binatang.
Apakah engkau tak pernah merasakan bagaimana kisah suci tentang cinta itu ? ataukah kita telah kehilangan akal kita. Andai saja kita membayangkan berada pada zaman dimana blangkon masih di kepala kita, dimana jarit masih melekat ditubuh kita, kita akan selalu ingat bahwasanya memandangpun kita taka akan pernah berani. Zaman itu menunjukkan pemaknaan yang mendalam tentang cinta, meski feodalisme membatasi ekspresi kasih ini. Sejujurnya dalam catatan ini pembahasan, saya ingin membayangkan tentang dimensi cinta yang ada. 

Alkisah, Cinta Gadis Pantai ala Pram
Dimulailah kisah cinta ini dimana seorang gadis desa ditepian pantai dilamar oleh seorang bendoro dari rembang. Gadis itu tak punya kuasa dia hanya gadis golongan bawah dia menyandarkan hidupnya pada ombak yang menerjang pada jiwa ayahnya. Dia polos, dia selalu mempertanyakan apakah bendoro mencintainya ? tapi apa gerangan bendoro ternyata hanya mengingkan seorang anak, anak yang akan meneruskan trahnya . Wal akhir gadis pantai pergi diusir setelah dia melahirkan anaknya. Pram mengambarkan sebuah kisah klasik cinta penuh feodalisme. Tapi satu nilai yang bisa kita petik disini, Gadis pantai menjadi sosok yang kuat mempertahankan cintanya sebagai istri dan kasih sayangnya terhadap anak. Sekali lagi Pram menggambarkan kisah cinta klasik penuh haru.

Cinta ala HAMKA
Secuil kata yang merangkai “Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji.”
Adalah bagaimana HAMKA memaknai suatu cinta dimana mahabahtullah menjadi suatu pegangan yang pasti. Cinta kepada tuhanlah yang membawa seluruh perangai kita menjadi pengasih dan penyayang. "Ana uhibbuki fillah" tak sekedar dilafadzkan seorang lelaki sebagaimana pemanis untuk mendekatkan rasa nafs kita kepada sosok wanita, tapi kata ityu merupakan azimat yang harus dipeang teguh esensi keindahaan dan kepatuhan kita terhadap Allah.
HAMKA pun menuliskan penanya dalam sebuah karyanya Tenggalamnya Kapal Van Der Wijck dimana kisah cinta Zainuddin dan Hayati bisa menjadi kisah cinta yang bertahan untuk selamanya. Hayati ternyata menikah dengan Aziz karena keluarganya lebih merestuinya. Cinta zainuddin dan Hayati tak pernah padam, cinta itu terus menggelora dalam hatinya. Pada akhirnya kisah cinta ini berakhir dengan meninggalnya Hayati yang karam dari kapal dan sakitnya zainuddin. Itulah takdir yang tidak bisa kita cegah lagi.  Seperti halnya dalam hidup kita, ketika kita melihat orang yang kita cintai bersama oranglain maka tenanglah karena sesungguhnya ketenangan dan kesabaranlah yang akan menguji dirimu menjadi lebih baik. Tak aka nada yang sia-sia dalam kesabaran karena takdir akan selalu memiliki jalan yang tepat dihadapan Allah.
Cinta pada seseorang tak selamanya bisa kita miliki, tak selamanya juga kita bisa mencintainya, tapi selalu ingatlah selalu cintailah Allah. Satu untaian kata yang harus kau ucapkan ketika melihat orang yang engkau cintai bersama dengan orang lain, ucapkan dzikir dan doa kepada Allah dengan sepenuh cintamu agar orang yang engkau cintai diberi jalan yang terbaik.

Setetes Cinta
Setetes itu adalah pengorbanan dengan tulus,
Setetes itu adalah Doa yang selalu terucap
Setetes itu adalah keikhlasan kita
Serahkan semuanya pada Sang Pencipta
Ingatlah tak ada yang salah pada dunia ini
Karena pada dasarnya kita ada untuk berbagi,

Manakala Gundah
Ingatlah selalu bahwasanya ketika dirimu mencintai seseorang dasarilah pada ketetapan Tuhan karena segala firmannya adalah sebuah petunjuk bagi kita. Janganlah merasa engkau sendiri jika tak ada yang berada disampingmu setiap waktu karena perlu engkau ketahui bahwa sebenarnya Tuhan telah menggariskan siapa yang akan menemanimu manakala engkau gundah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar